Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

9.12.2012

Kurang Tidur Bikin Remaja Susah Puber

Kurang Tidur Bikin Remaja Susah Puber

Portal berita kesehatan - Pubertas adalah masa yang krusial dimana seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis dan pematangan fungsi seksualnya. Biasanya pada wanita, pubertas ditandai dengan menstruasi pertama, sedangkan pada pria ditandai dengan mimpi basah.

Namun ternyata tak banyak yang memahami asal-usul perubahan yang terjadi pada tubuh anak laki-laki dan anak perempuan itu.

Studi yang dilakukan sejumlah peneliti dari Harvard University ini menemukan bahwa puber dipicu oleh adanya perubahan di dalam otak.

Hal ini hampir sejalan dengan hasil studi sebelumnya yang mengemukakan bahwa bagian otak yang bertugas memunculkan pubertas diaktifkan pertama kali saat si pemilik otak sedang tertidur.

Tapi lain halnya dengan studi baru ini. Dalam studi ini peneliti menunjukkan gelombang tidur yang lambat atau biasa disebut dengan 'tidur dalam' (deep sleep) memiliki keterlibatan yang sangat kuat terkait munculnya masa pubertas, jadi bukan sekedar tidur biasa seperti yang dipaparkan studi sebelumnya.

"Jika bagian otak yang mengaktivasi sistem reproduksi bergantung pada tidur yang dalam (deep sleep), kita perlu khawatir jika anak-anak dan remaja mengalami gangguan tidur atau kekurangan jam tidur karena bisa jadi nantinya kematangan fisik, psikis dan fungsi seksualnya akan ikut terganggu atau mengalami ketidaknormalan," ungkap peneliti Natalie Shaw, MD dari Massachusetts General Hospital dan Boston Children's Hospital seperti dilansir dari sciencedaily, Rabu (12/9/2012).

Fakta ini sudah terbukti bagi anak-anak yang telah didiagnosis mengalami gangguan tidur. Namun implikasinya juga akan meluas jika para remaja juga tidak mendapatkan jatah tidur yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Studi ini akan dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism (JCEM).sumber



7.10.2012

Waduh Kesusupan Malware

Masih pagi -pagi udah kaget sama ulah malware yang ada di blog yang saya kira emang dari blog ini bung-klon.blogspot ternyata ada beberapa barner dari blogger sebelah yang mengandung malware, setelah di copot barnernya alhamdulilah normal lagi.
Udah beberapa hari ga pernah di posting,tapi dari segi kunjungan tetap membludak, jadi merasa bersalah nih ninggalin gubuknya sendiri selama beberapa hari, tetapi bukanya saya meninggalkan blog ini hanya saya saya sering buka blog ini hanya mengecek saja apakah dalam keadaan baik-baik saja kalo baik-baik saja ya sudah gak papa trus saya tinggal lagi.

Emang beberapa hari ini otak sedang penuh sama berbagai masalah, saya sedang mengalami sakit yang beberapa hari ini belum menunjukan kesembuhan yang sempurna jadi bekerjapun masih saya lakukan dengan terpaksa.

ini adalah pesan saya buat blogger junior, meskipun saya udah lebih 6 bulan mendirikan blog ini tapi belom cukup banyak yang saya mengerti tentang dunia blogging jadi saya juga masih junior, ini cuma saran semoga berharga jika sobat tidak ingin bosen dengan ngeblog usahakan jangan membuat terlalu banyak blog, bukanya apa-apa tapi dari pengalaman saya adalah karena banyak blog jadi males negpost.

Tujuan yang jelas dari ngeblog, nggak kayak bung-klon.blogspot.com ini yang bingung tujuanya kemana, tapi mulai dari beberapa bulan lalu blog ini berisi tentang kesehatan.

yahh, semoga tulisan ga jelas ini bisa mengeluarkan semua uneg-uneg saya selama ngeblog jadi biar ga ada beban selama bekerja.

saya ucapkan terima kasih kepada pembaca setia bung-klon.blogspot ini karena tanpa sobat sekalian blog ini tidak ada gunanya.



6.16.2012

Cerita Cinta Remaja_Kasih tak sampai

Cerita cinta Remaja_Kasih Tak Sampai


Dini ...     
cerita cinta remaja
      Pagi itu aku berjalan menelusuri koridor sekolah yang tampak sepi. Wajar saja, waktu masih menunjukkan pukul 06.40. Terlalu awal untuk memulai aktivitas. “Hai Dini, Pagi !” sapa beberapa murid padaku. “Pagi teman-teman !”. Aku membalas sapaan mereka sambil melambaikan tangan dan tersenyum ceria. Ya ! Akulah Dini, Dini Riskayanti. Murid kelas X SMA yang paling gemar membuat majalah dinding. Hampir setiap majalah dinding di sekolah maupun di rumah tak luput dari karya-karyaku. Ya, aku memang senang berkreasi, menuangkan setiap karya-karya di dalam sebuah lembaran kertas agar dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

      Pagi ini memang tidak begitu cerah. Tak terdengar kicauan burung yang dulunya senantiasa mewarnai hariku. Namun aku tetap bersemangat ke sekolah dengan menjinjing sebuah tas ransel berwarna merah di pundakku. Dengan langkah gontai bak seorang penari yang sedang beratraksi di atas panggung, aku berjalan menuju perpustakaan. Perpustakaan dengan cat putih itu cukup kecil namun masih mampu memuat berbagai jenis buku.

      Keadaan terasa hening, di tempat itu aku hanya melihat Ibu Dian, si penjaga perpustakaan yang memecah keheningan dengan suara tumpukan buku-buku yang sedang di bereskannya. Aku melangkah mendekati pintu perpustakaan sambil celingak celinguk. Saat aku menoleh pada pojok perpustakaan, tampak sesosok laki-laki bertubuh jangkung yang sedang menyusuri deretan buku-buku di lemari buku sastra. Laki-laki itu memakai kacamata dengan sentuhan warna hitam pada ganggangnya. Baju yang terangkai rapi dengan ketiga lipatan di belakang membuatnya tampak semakin manis. Wajahnya terlihat datar mengamati kalimat demi kalimat yang tertera pada sebuah buku. Terkadang senyum simpul tergambar di wajahnya yang memberikan kehangatan dalam hatiku. Dialah laki-laki yang membuat hari-hariku lebih berarti.

      Segala informasi tentangnya, koleksi foto yang kuambil dalam berbagai kesempatan saat ia sedang beraktifitas serta profilnya telah kuabadikan dalam secarik kertas yang tertempel rapi di majalah dinding kamarku yang hanya berukuran sekitar 1 x 0.5 m. Mario Dinata, siswa terfavorite yang tiap tahunnya meraih Peringkat I Umum sehingga menjadi idaman para wanita, siswa kelas XI IPA 4, berumur 17 tahun 4 bulan, tinggi 178 cm dan berat 50 kg, kulit kuning langsat dengan sentuhan alis yang tebal, motornya bermerk Mio Soul berwarna hijau dengan nomor kendaraan DD 3867 NS dan masih banyak lagi informasi-informasi detail tentangnya yang membuat majalah dindingku nyaris penuh.

  Bahkan berita tentang kedekatannya dengan Kirana Cantika, sekretaris OSIS di sekolahku juga tak luput dari coretan penaku pada lembaran kertas warna-warni di mading kamarku. Kirana Cantika memang wanita yang cantik dan pintar. Lelaki manapun tentu akan tertarik dengannya, termasuk Mario. Namun sebelum melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku tidak percaya dengan kabar yang memberitakan adanya hubungan special antara Mario dan Kirana. 
   
      Keesokan harinya pada saat istirahat, aku melihat Mario sedang mondar mandir di depan ruang guru. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Aku tersenyum kecil melihat langkahnya yang pontang-panting, ia tampak sangat lucu. “Mungkin ini saatnya Tuhan, mungkin aku harus memberikan isyarat tentang perasaanku kepadanya.” Beberapa tumpukan buku  ditanganku sengaja kujatuhkan di hadapannya, berharap dia akan membantuku membereskan buku-buku tersebut. 

  Namun harapanku pupus, ketika sesosok wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku meraih tangannya kemudian mengajaknya pergi dari tempat tersebut dengan terburu-buru. Dalam hitungan detik, Kirana dan Mario berlalu tanpa mempedulikanku yang tengah kesusahan membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Apakah dia tak peduli padaku ? Apakah aku hanyalah butiran debu yang tak berarti baginya? Hati kecilku menangis.

      Perjuanganku tak berakhir karena kejadian pahit tersebut. Sore hari, ketika aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, diam-diam aku menempelkan sebuah kertas yang telah dihiasi sedemikian rupa pada majalah dinding sekolah. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari kertas tersebut. Hanya berisi lirik lagu yang berjudul “Mengejar Matahari” dan pada sudut kanan bawahnya kutuliskan “Untuk MD” sebagai inisial namanya. Lagu tersebut melambangkan bagaimana perasaanku padanya, seorang wanita yang tidak istimewa yang menyukai lelaki istimewa.

 Mario bagaikan sebuah matahari, yang senantiasa memancarkan sinarnya, memberikan kehangatan di muka bumi ini, membuat semua orang mengaguminya. Dan aku sadar, aku bagaikan tanaman kecil dibarisan paling belakang sedang menanti cahaya matahari yang tak kunjung datang. Namun, aku yakin suatu saat nanti dapat memperoleh cahaya matahariku.

      Pikiranku mulai menerawang jauh mencoba mengamati perjuanganku selama ini. Aku sadar Mario pasti tidak mengerti makna dari lagu yang kutulis dalam secarik kertas tersebut. Aku hanya berharap ia membaca lagu tersebut meskipun hanya sesaat. Tiba-tiba lamunanku pecah akibat sebuah pemandangan yang cukup menyakitkan hatiku. Di hadapanku, aku menyaksikan Mario dengan sepeda motornya yang masih berkilau dan belum lecet sedikitpun menggandeng Kirana. Mereka terlihat mesra. Bahkan tangan kanan Kirana melingkar di pinggang Mario. 

Apakah benar mereka berpacaran ? Apakah kabar yang kuterima selama ini  bukanlah angin lalu belaka ? Hatiku mulai melakukan penyangkalan namun pikiranku mencoba menerjemahkan kebenaran dari informasi yang kuperoleh sebelumnya. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku, “Sudah aku katakan. Mereka berdua itu sepasang kekasih. Kamu nggak peduli sih !”, sahut Anji yang turut menjadi penyebar berita tentang Mario dan Kirana . Tanpa kusadari, hatiku yang seolah retak turut mengajak kakiku untuk berlari secepatnya menuju rumah. Untung saja, jarak rumahku tak jauh dari sekolah hanya sekitar 100 meter.

      Sesampainya di rumah, aku segera mengunci diri di dalam kamar. Aku tak kuasa lagi menahan tangis. Tanganku mencoba membuka laci meja belajar secara perlahan. Aku ingin mengambil selembar kertas berwarna untuk menuliskan suasana hatiku saat ini. Namun tiba-tiba saja tulang pergelangan tanganku terasa nyeri bahkan sulit digerakkan. Tanpa sengaja aku menjatuhkan laci tersebut sehingga berbagai lembaran kertas di dalamnya ikut terjatuh dan berserakan di lantai. Aku tidak mengerti mengapa tanganku seolah tak mendengarkan perintahku untuk membereskan kertas-kertas yang berserakan.

       Pandanganku tiba-tiba tertuju pada sebuah amplop yang berlogo Rumah Sakit Umum Tenriawaru Watampone. Amplop berwarna putih tersebut tak asing lagi bagiku bahkan amplop tersebut pernah menjadi bagian dari kisah suramku. Perlahan aku membuka amplop tersebut lalu menarik selembar kertas yang terdapat di dalamnya.  Aku mengamati kata demi kata yang tertera pada kertas tersebut. Mataku kembali berlinang air mata saat membaca sebuah kalimat “Anda dinyatakan positif terjangkit Leukemia Limfositik Kronis”.

      Tuhan, ingatanku kembali pada masa lalu. Masa yang penuh dengan penderitaan dan tangisan. Disaat seorang dokter menyiratkan wajah prihatin padaku. Seorang remaja berusia 15 tahun yang terjangkit Leukemia yang lebih akrabnya disebut Kanker Darah Putih. Salah satu jenis kanker di dunia yang menyerang sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang sehingga mengakibatkan sel darah putih berkembang tidak normal atau abnormal. 

Penyakit ini cukup mematikan, bahkan Dokter telah menyatakan umurku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Namun Tuhan berkata lain, ia menganugerahkanku orang tua yang sangat menyayangiku dan setia mendampingiku, serta seorang lelaki yang secara tidak langsung menjadi semangat hidup bagiku. Dialah Mario, aku selalu berharap untuk dapat bersamanya suatu saat nanti. 

Keinginanku itu membuatku berusaha untuk bertahan. Bahkan aku semakin giat belajar, agar dapat menunjukkan citra yang baik kepadanya meskipun dalam kondisi yang lemah. Kini, keadaan berkata lain. Mario bukanlah untukku dan hanyalah bayangan semu bagiku. Dengan hati yang tidak begitu rela, aku mulai berusaha untuk melupakannya. Ia telah bersama dengan orang lain. Dia tidak membutuhkanku dan aku harus berusaha untuk menghindarinya.

      Tiba-tiba setetes darah menetes pada kertas hasil diagnosa tersebut. “Ya Allah, aku mimisan lagi,” batinku. Aku segera menuju toilet dan membersihkan darah segar yang keluar melalui hidungku. Tubuhku terasa sangat lemah, kepalaku sakit, semua tulangku terasa nyeri, napasku semakin sesak dan kini muncul jentik merah dengan ukuran bervariasi pada kulitku. 

Ayah dan Ibu mulai menyadari keadaanku ketika mendengar sebuah suara aneh terdengar dari kamarku. Mereka pun segera membawaku ke rumah sakit terdekat. Sesuai dugaanku, dokter mendiagnosa bahwa penyakit leukimiaku yang kronis dan sempat memberikan tanda-tanda kesembuhan telah memberontak kembali dan kini menjadi lebih akut. Akhirnya dokter memutuskan agar aku dirawat di rumah sakit.

      Selama berada di rumah sakit, keadaanku tidak kunjung membaik. Bahkan penyakit itu semakin melakukan perlawanan terhadap segala bentuk pengobatan yang diberikan kepadaku. Namun disaat-saat kritis seperti itu, aku memutuskan untuk dirawat di rumah. Aku ingin segera berada di kamarku dan merasakan kembali atmosfer kehidupan yang nyata tanpa adanya rasa sakit atau tangis.

      “Dini, jika itu keinginanmu. Ayah dan Ibu tak bisa menolak.” Akhirnya ayah memenuhi keinginanku meskipun dengan sedikit paksaan olehku. Aku senang dapat menginjakkan kaki di rumah. Kini aku dapat melupakan segala kesakitan yang kurasakan. Namun pada kenyataannya, setiap malam aku tetap mengalami demam dan mimisan. Kelenjar getah bening pada leher dan ketiakku mulai mengalami pembengkakan diiringi dengan tubuhku yang semakin kurus. 

Meskipun hanya terbentur oleh benda-benda yang tidak begitu keras, tubuhku dapat menyisakan luka lebam dan setiap menggosok gigi gusiku selalu saja berdarah. Dalam kondisi yang cukup lemah, akupun mencoba meraih sebuah buku yang kuletakkan di atas meja belajarku sehari sebelum aku dilarikan ke rumah sakit. Aku tersenyum melihat buku tersebut, “Kau akan berada di tangan yang tepat”, kataku pada buku tersebut seolah buku yang menyerupai album foto itu adalah seorang manusia yang dapat berinteraksi denganku.

      Aku merasa hidupku sudah tidak lama lagi, aku merasa napasku hanya tinggal beberapa menit lagi. Aku merasa lelah, aku ingin beristirahat dengan tenang. Aku tidak ingin lagi  merepotkan ayah dan ibu. 

Aku pun segera memanggil kedua orang tuaku. “Ayah, Ibu,” sahutku dengan suara yang samar-samar. Ayah yang sedari tadi menjagaku di kamar dan Ibu yang baru saja kembali dari dapur segera mendekatiku. “Ada apa anakku ?,” seru mereka hampir bersamaan. “Ayah, Ibu aku ingin meminta bantuan kalian,”. “Silahkan saja Dini !”sahut ayah. “Tolong Yah, Bu. Berikan buku ini pada seorang lelaki bernama Mario Dinata ketika ia datang menjengukku.” Ayah dan Ibu hanya mengangguk lesu sambil menggenggam tanganku. “Ayah, Ibu. Jangan khawatir ! Aku selalu bersama kalian, di dalam hati kalian,”. Ayah dan Ibu kembali mengangguk disertai dengan isak tangis. “Jaga hati kalian ! Karena aku akan selalu ada disana,”tambahku. Beberapa detik kemudian, aku tersenyum lalu menghembuskan napas terakhir.
*------*
Mario ...
 
      Pagi itu, sekolah tiba-tiba gempar dengan sebuah pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh kepala sekolah. Beliau mengatakan bahwa seorang Siswa SMA Negeri 156 Watampone yang bernama Dini Riskayanti telah berpulang ke Rahmatullah dan para murid diperintahkan untuk segera melayat ke kediaman Almarhumah. Aku sendiri tidak begitu mengenal pemilik nama yang disebutkan tadi. 

Sekilas ingatanku memberikan bayangan, mungkin saja Dini Riskayanti itu adalah wanita yang selama ini selalu bertingkah aneh ketika berada di dekatku. Aku juga tidak mengerti dengan segala tindakan wanita itu. Dia memang sangat aneh. Namun, sebagai bentuk penghormatan terakhir, akupun ikut melayat ke kediaman Almarhumah.

      Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk kembali ke sekolah dan tidak mengikuti acara pemakaman jenazah. Namun sesosok tubuh yang diselimuti pakaian dan selendang berwarna hitam menahanku. Menurut informasi yang kuperoleh tadi, orang itu adalah ibu dari Almarhumah. “Nak, kamu yang bernama Mario Dinata?”tanyanya. “I..... Iya Bu,”jawabku gugup. “Ini ada kenang-kenangan untukmu dari Dini,”. Ibu itu pun segera berlalu. Dengan wajah yang sedikit bingung, aku mengamati bingkisan yang diberikan oleh Ibu tadi. Aku memutuskan untuk membukanya ketika sampai di sekolah.

      Sekolah masih tampak sepi, hanya ada sekitar 12 siswa yang juga telah kembali dari rumah duka. Sambil menikmati sebotol softdrink dan duduk melantai di taman sekolah, aku mulai membuka bingkisan yang diberikan kepadaku oleh orang tua Dini. Perlahan, aku melepaskan pita perekat yang direkatkan pada bingkisan tersebut. 

Ternyata isinya adalah sebuah buku yang berjudul Kasih Tak Sampai. Aku pun mulai membuka halaman demi halaman pada buku tersebut. Di dalamnya terdapat foto-fotoku dalam berbagai pose, profil lengkapku, dan informasi-informasi menarik lainnya tentangku. Diantara lembaran-lembaran halaman yang berisi foto tersebut juga terselip puisi indah yang khusus dibuatkan Dini Riskayanti untukku. Sebuah puisi yang mengungkapkan perasaannya padaku selama ini. 

Air mataku mulai menetes ketika membaca sebuah kalimat, “Aku masih sanggup menunggumu lebih lama. Namun, mungkin waktuku tidak akan mampu. Meskipun kau tidak pernah mengenal dan menyayangiku, aku tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk mengenal dan menyayangimu. Matahariku,”

      Di bawah tulisan tersebut, terdapat sebuah goresan pena, sebuah puisi indah dan penuh makna yang menimbulkan rasa penyesalan dalam hatiku.

Mungkin dia tidak akan tahu
Betapa aku memujanya
Mungkin dia tidak akan tahu
Betapa ku sangat merindukannya
Mungkin dia tidak akan tahu
Aku sepi tanpanya ..
 
Mungkin dia tidak pernah tau
Bagaimana aku mencintainya
Mungkin dia tidak pernah tahu
Telah lama kupendam rasa ini ...
 
Namun dia harus tahu ..
Cintaku tak lekang oleh waktu
Ku akan selalu menyayanginya
Walau perih yang kurasa
Ku akan selalu mencintainya
Dalam sisa hidupku
 
Biarkanlah cinta ini abadi
Meski dia tidak akan pernah tahu ..
 
     “Betapa besar pengorbanan seorang Dini Riskayanti kepadaku. Aku minta maaf karena tidak mampu membalas perasaanmu. Aku minta maaf karena seringkali mengabaikanmu. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Aku minta maaf karena telah membuatmu menunggu.” Rasa bersalah timbul di benakku.

     Kini aku berjanji untuk selalu membahagiakan orang-orang yang menyayangiku. Aku sadar, bahwa merekalah yang terpenting bagiku. Aku akan membuat Dini bangga terhadapku. Dini, kamu akan menjadi kenangan yang indah dalam hidupku. Meskipun tidak banyak waktu yang kita lalui bersama. Sejak itu, aku sering mengunjungi makam Dini dan meletakkan sepucuk surat yang berisi karya-karya puisiku di atas batu nisannya. Untuk seseorang yang kini telah dipeluk bumi dan tidur dalam diam, terima kasih untuk seluruh cinta. 
 
 
~THE END~
 
 
 
 
Created by : RENY KARTINI wiff NURAINI (My Besties)
                     Jl. DR. Wahidin Sudiro Husodo Watampone, Sulawesi Selatan, Indonesia
                     www.renykartinixdua@yahoo.com



6.14.2012

Cerita Cinta Remaja_aku menderita Karena Ayahku

Cerita Cinta Remaja_aku Menderita Karena Papaku

“Mamaaaaa.......Mamaaa.....jangan pergi Maaaa......tunggu lyla !!”. Dengan tersentak, lyla tersadarkan dari mimpi nya. Jantungnya berdetak dengan cepatnya. Ya dalam beberapa hari belakangan ini wajah mama nya sering sekali muncul mimpi nya itu. “ huufft!! ohh.....ternyata hanya mimpi” pikirnya dalam hati. Keringat tampak mulai membasahi kening lyla. Dia hanya termenung, Nampak sekali ada kesedihan yang cukup mendalam, sejak lyla di tinggalkan oleh mama nya tercinta beberapa tahun yang lalu. Setelah mama nya meninggal kehidupan nya berubah drastis. Sedangkan papa nya setelah perusahaan tempat kerjanya bangkrut kini menjadi pengagguran dan sering mabuk-mabukkan dan menjadi orang yang pemarah. Sering kali pula lyla bertengkar dengan papa nya itu. Lyla merupakan anak tunggal dalam keluarga nya. Jadi tampak jelas betapa sepi nya hidup lyla. “Maaa...kenapa sih harus tinggalin lyla sendiri?? lyla kangen banget ma Mama, lyla ingin sekali ketemu maaaa


!!”tanya lyla dalam hati. Airmatanya tampak membasahi kedua bola mata indah yang mulai berkaca – kaca itu. “Hiks...hiks...kenapa mama begitu cepat ninggalin lyla sih??. lyla kembali termenung tak habis pikir. Pikiran nya sangat kacau malam ini karena hampir setiap hari selalu bertengkar dengan papa nya, akibat kebiasaan mabuk nya itu.


Sesaat kemudian ia pun membaringkan kembali tubuhnya di tempat tidur. “besok aku ada janji sama rino. Aku harus cepat - cepat tidur dan bangun pagi-pagi”. Semoga esok pagi ada khabar gembira buat ku”. Pikir lyla dengan penuh harap. Tangan nya kemudian mengusap airmata yang tersisa di pipi nya. Sesaat kemudian lyla sudah kembali tertidur lelap. Meskipun pikirannya masih menerawang jauh di antara kegelapan malam.

********

“Duk,,duk,,duk,,duk”. Suara keras dari balik pintu membangunkan lyla dari tidur nya. Dari balik jendela tampak sinar matahari sudah mulai muncul. lyla lalu mengusap mata nya yang masih mengantuk. Sesaat kemudian terdengar lagi suara gedoran dari balik pintu di ikuti suara kasar. “duk..duk..duk. Lil buka pintunya!! papah mau bicara sama kamu!!. bentak papah dari balik pintu.
“cepetan buka pintu nya!! atau papa dobrak nih!”kata papa yang sudah mulai mengeluarkan kata – kata ancaman. Lyla segera membenahi pakaiannya. Sebelum membuka pintu, lyla menarik nafas dalam-dalam supaya pikirannya tenang sejenak.


Lalu pintu itu terbuka. Dari balik pintu terlihat wajah papa yang tampak marah sekali. Nafasnya mengendus-endus tanda emosinya sudah memuncak. “kamu sengaja Yaa tidak membukakan pintu kamar!! Kamu mau melawan papa Haaahh!!. bentak papa pada lyla sambil tangan kanan nya yang mulai terangkat.


“Tampar aja Pah! Lyla dah siap kok” kalau papah masih belum puas dengan yang semalam” jawab lyla dengan lantang. Matanya dengan tajam menatap papa nya yang kian emosi mendengar jawaban dari lyla.


“Papa butuh uang buat beli minuman!” bentak papa. Tangannya kemudian di turunkannya kembali. “Lyla lagi ga punya uang pah. Lagian....kan kemarin-kemarin uang baru aja lyla kasih ke papa”. Jawab lyla sedikit menahan emosinya karena sudah capek bertengkar dengan papa nya setiap saat.
“Udah habis,” jawabnya singkat.


“Jangan bohong kamu !!Cepetannnn! Mana duitnya!”. Bentak papa lagi yang sudah sangat tidak sabar.
“ Beneran nggak ada pah! Periksa aja dompet dan kamar lyla kalau ngak percaya !!” sambil tangan lyla menadahkan tangannya mempersilahkan papa nya memeriksa kamar lyla. Papanya lalu mendorong tubuh lyla dan masuk ke dalam kamarnya. Segala benda-benda yang dia temukan segera di lemparnya begitu saja. Dalam sekejap kamar itu pun menjadi berantakan tak beraturan. Lyla hanya terdiam melihat tingkah laku papa nya itu. Lyla mencoba untuk menahan airmatanya yang mulai keluar. Hati nya terasa sakit sekali melihat papa nya yang tak seperti dulu lagi.
“Mana dompet kamu!!” tanya papa dengan kesalnya.


“ itu di atas meja belajar lyla” jawab lyla singkat saja. Papa langsung beranjak dari tempat tidur menuju meja yang di tunjuk oleh lyla. Di ambilnya dompet itu, semua isinya dia keluarkan. Didalam nya hanya di temukan selembar uang 10 ribuan saja.


“ Cuma segini aja!! jangan bohong kamu!. Mana yang lainya berikan pada papa !!” dengan nada penuh ancaman ke lyla. Lyla hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata sepatah kata pun. “awas yaa...!! kalau papa temukan selain ini tau rasa kamu! Jawabnya singkat sambil matanya terus memperhatikan seluruh kamar lyla. Tak berapa lama pun akhirnya dia pergi begitu saja meninggalkan lyla seorang diri. Seketika itu pun airmata turun dengan derasnya membasahi kedua pipi lyla. Tubuhnya terasa lemas sekali dan akhirnya terjatuh. Lyla duduk bersandarkan titian di tempat tidur, dengan pikiran yang kacau.


“ Maaaa....huuu...huuu..huu.. sampai kapan harus seperti ini terus.” Lyla udah nggak tahan lagi maaa..” jawab lyla dengan suara surau nya. Tapi hanya angin sepi yang berhembus menghampirinya.

********


Suasana taman siang ini keliatan sepi sekali. Padahal hari ini adalah hari minggu, tidak seperti biasanya. “ mungkin karena cuaca mendung kali yaa? Jadi sepi gini” pikir lyla yang terduduk di antara bangku taman. Mata nya menatap ke sana ke mari. Tampaknya dia menunggu seseorang. Ya lyla kebetulan siang ini ada janji dengan rino kekasihnya itu bertemu di taman. Tanpa sadar lyla terlarut dalam lamunan panjang. Entah apa yang dipikirkannya, hanya dia yang tahu. Dan “ Heyyy....melamun aja” diikuti rasa terkejut nya lyla yang tersadar dari lamunannya.


“ kamu mengagetkan aja rin...kemana saja kamu baru jam segini datang!! “ tanya lyla pada rino. “ sory tadi ada urusan kantor bentar....oh ya kamu sudah makan belum lil? Tanya rino mengubah topik pembicaraan. Wajah nya terlihat serius sesekali terkadang tersenyum pada lyla.
“ Ga rin...aku ga lapar” jawab lyla dengan suara berat. Wajah nya menunjukkan suasana yang sedang mengalami permasalahan yang amat sangat.


Tiba – tiba tangan rino memegang tangan lyla. Di eratnya tangan yang mungil dan lembut itu. “ kamu pasti habis bertengkar lagi dengan papa mu ya? Kamu yang sabar yaa....mungkin Tuhan sedang memberikan ujian buat kamu...pada akhirnya nanti pun Dia akan memberikan jalan yang terbaik buat kamu Lil” wajah lyla hanya tertunduk mendengar nasehat dari rino. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut nya. Rino terus menatap lyla dengan penuh senyum berharap sang kekasihnya menemukan kembali semangatnya yang hampir habis.


Beberapa saat keduanya hanya bisa terdiam. Lalu rino mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah amplop berwarna coklat dia sodorkan kepada lyla. “ nih ambil kalau kamu butuh” jawab rino. Lyla hanya tertegun melihatnya, lalu di terima nya amplop itu dengan kedua tangannya. “ maafkan aku rin kalau sudah merepotkan kamu...aku janji kok kalau sudah punya uang pasti aku ganti “ jawab lyla. Rino hanya mengangguk sambil tersenyum.


“ udah ga usah di pikirin cara bayarnya...kapan – kapan aja ga apa – apa kok, lagian aku juga ikhlas ngasih nya ke kamu”
Tampak binar mata nya memandang wajah rino dengan pekat. Senyum dan kesedihan menjadi satu dalam diri lyla. Di satu sisi ia merasa tak enak hati karena telah merepotkan kekasihna itu, tetapi di lain sisi ia tak punya pilihan lagi.
“ heyy...kenapa diam!!” tangan lembut rino menepuk bahu lyla dan matanya memandang lyla penuh senyum.


“ sekali lagi terima kasih ya rin. Aku janji kalau sudah punya uang akan ku bayar segera”. Setelah itu kedua insan manusia yang sedang di mabuk asmara itu hanya terdiam membisu menemani awan yg kian gelap. Dan hari pun semakin sore.

**********

“Dari mana saja kamu!!” wajah nya tampak penuh amarah memandang lyla. Lyla hanya menoleh sebentar lalu tampak acuh membiarkan begitu saja sesosok pria separuh baya yang adalah papa nya sendiri dan lalu melangkah menuju kamarnya.
Melihat tingkah laku lyla membuat amarahnya semakin memuncak di hampiri nya anak semata wayangnya itu, lalu tiba – tiba.


“ awww....sakit pah!!! di tariknya rambut lyla yang panjang sebahu itu dengan kuat oleh si papa. Lyla hanya bisa meringis menahan sakit. Lalu di ambilnya dengan paksa tas lyla.
Wajah nya berubah gembira saat ia menemukan sebuah amplop berisi uang pemberian rino dari dalam tas lyla.


Dengan sekejap lyla langsung menghampiri sang ayah tercinta dan berusaha merebut nya kembali. Dan “plakkkk” sebuah tamparan yang kuat mengenai pipi lyla. Lyla terjatuh, akan tetapi tangannya masih sempat meraih kaki sang papa untuk menahan nya yang hendak pergi.
“jangan pa itu lyla pinjam dari rino” pinta lyla dengan sangat.


“perduli setan!! Mo dari rino kek, dari siapa kek papa ga perduli” jawab papa dengan lantang.
“ hahaha akhir nya malam ini papa bisa minum sepuasnya”
“pah... jangan di ambil pah!!! itu buat kehidupan kita sehari – hari !!”
Lyla memegang erat kaki papa nya dan memohon dengan sangat. Memohon agar papa lyla mengurungkan niatnya itu. Akan tetapi, dengan tanpa pikir panjang lalu di dorongnya tubuh lyla hingga akhirnya ia tersungkur ke lantai.


“ kamu sama saja dengan mama mu itu, lebih baik kamu susul saja mama mu itu ke akherat!!!”
dengan tawa nya yang keras akhirnya ia pergi begitu saja meninggalkan lyla. Akhirnya ia pun menangis. Dan ia tak bisa menahan emosi lagi dan “ papah jahattttt!!!!” teriak lyla dengan sekuat tenaga di ikuti keheningan malam yang datang.


********


Telepon di rumah rino tiba – tiba saja berdering, saat itu ia sudah mulai akan beranjak tidur. Lalu segera di angkatnya telp itu.
“ rin.....ini aku lyla” jawab lyla dengan suara yang berat.
“ooo kamu lil.......tumben malam – malam telp? Kamu kenapa lil ada masalah lagi dengan papa mu ya?” simpati rino mendengar suara yang tidak biasa nya dari lyla.
“ ga kok rin aku baik – baik aja, kamu tak usah khawatirkan aku.” jelas lyla, tetapi dalam hati tetap saja rino perduli dengan kekasihnya itu.


Keduanya sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya lyla kembali membuka pembicaraan.
“rin.... terima kasih banyak yach karena selama ini, jika aku selalu punya masalah kamu pasti selalu suport aku. Aku nggak tau lagi harus ngomong apa lagi ke kamu selain kata – kata ini” jawab lyla yang sedari tadi airmata nya telah membasahi kedua mata indah nya.
“kamu bicara apa sich lil? Aku jujur nggak mengerti maksud kamu?” rino tampak bertanya – tanya dalam hati.


“ nggak kok rin....aku cuma pengen ngomong aja ke kamu” sambil menahan tangis dan kesedihan yg di alami saat ini.

Suara lyla tampak terbata – bata mengucapkan kata – kata yang membuat rino menjadi heran ada apa gerangan dengan sang kekasih hati nya itu. Suasana kembali hening saat keduanya hanya terdiam tanpa sepatah kata pun.
“ rin....aku....aku...sayang kamu...” tiba – tiba telepon langsung terputus begitu rino mendengar kata – kata sayang yang terucap dari mulut lyla.
Di cobanya kembali untuk menelpon balik tetapi tidak ada jawaban, tampaknya telp lyla telah non aktif. Rino jadi berfikir – pikir sendiri tentang lyla. Rasa khawatir dan cemas seakan menghantui perasaannya.
“ rin... maafkan aku yach” ucap lyla dalam hati saat menutup telp itu.

*******

Udara dingin mulai menyelimuti pagi ini. Dari kejauhan tampak sesosok tubuh yang berjalan gontai menuju rumah lyla. Ya dia adalah papa nya lyla yang sedari malam tidak pulang, tampak berjalan dalam keadaan mabuk berat. Dia berjalan memasuki rumah itu tanpa berkata apapun. Matanya sayu berusaha menuju pintu kamar lyla.


“ duk...duk..duk..lil buka pintu nya!!!” seperti biasa kata-kata kasar sesekali keluar dari mulutnya.
Tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
“lil!!! bukaaa!!!” suaranya mulai meninggi.
Emosinya seketika timbul, di buka nya pintu itu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara “brakkk” akhirnya pintu terbuka. Suasana kamar gelap sekali.


“Lil dimana kamu !!jangan sembunyi jawabbb !” teriak papa saat memasuki kamar lyla. Dan tiba-tiba......raut wajah nya berubah seketika, sorot mata nya tertuju pada sudut ruangan. Disitu terlihat sesosok tubuh yang tergeletak lemas hampir tak bernyawa. Ia mendekati nya dengan perlahan di pandanginya sesosok tubuh itu yang ternyata adalah lyla putri satu-satu nya itu. Seketika emosi yang tadi nya memuncak berubah, badannya kelihatan kegetaran dan tak bisa bergerak sedikit pun.


“ li....lil....lyla” jawabnya dengan suara terbata-bata. Terduduk lah ia sambil memegang tangan dan wajah putrinya itu.
Sambil meneteskan airmata “ Lil ! Lil ! Bangun Lil.... Ini papa !!” di gerak – gerakkannya tubuh lyla tapi tidak ada jawaban.
Sekujur tubuh lyla bersimbah dengan darah yang keluar dari lengan tangan kirinya. Darah segar mengalir membasahi lantai kamar.
“li...lil.....bangun lil... Jangan pergi...” pinta papa dengan suara bergetar.




“ akhhhhhhhhhh...” di pukulnya lantai kamar beberapa kali sebagai tanda sebuah penyesalan yang amat sangat.
“ papa yang salah lil !! papa yang salah !!....seharusnya....seharusnya....” sesal nya tanpa bisa menjelaskan lebih panjang. Di benamkan wajahnya ke tubuh lyla, terdengar suarta tangis tiada henti di ucapkannya.
“ lil !! bangun lil !! jangan Tinggalkan Papa mu ini sendirian !!” tak habis – habisnya ia berkata tak karuan.


Tiba – tiba sesosok bayangan bergerak memegang nya. Papa lyla tampak kaget begitu tahu bahwa ternyata tangan lyla membelai rambutnya. Di lihatnya wajah lyla yang tengah sekarat itu terlihat tersenyum kepadanya. Antara senang dan sedih yang bercampur menjadi satu di dibelai nya wajah lyla.



“pa......pa........papah.....ga.....salah...kok” terucap kata – kata surau dari mulut lyla. Matanya hanya bisa memandangi wajah papa nya dengan tersenyum.
“ li.....li....lyla......kangen......sama.....mama”li....lyla.....ingin.....ketemu......sa...sama.....mama....pah”
jawab lyla dengan suara terbata – bata.
“ iya lil....papa yang salah...semua karena salah papa....”
“Ngg.....nggak.....pa....pa....papa....nggak.....salah kok”


“papa.....adalah....orang....yang....penuh tanggung jawab.....pada mama....dan juga....lyla”. Lyla......mau.....papa......seperti...du...dulu....lagi”.
Dengan mata yang berbinar-binar sambil memegang erat tangan lyla “ lil !! papa janji....mulai hari ini papa akan berubah !!! ya berubah demi kamu putri kecil ku !!”


“ I....iya.....lyla....percaya kok” jawab lyla yang terlihat pucat. “ iya papa janji !!! papa janji !! kita mulai lagi kehidupan ini dari awal yach”. Mulai besok ! Papa akan cari kerja, buat menghidupi kebutuhan sehari-hari kita lil !!”.



Lyla hanya tersenyum mendengar perkataan dari sang papa. Sesekali airmatanya mengalir membasahi pipinya. Lyla terlihat sangat bahagia melihat perubahan drastis dari papa nya itu. Ia sekan melihat sesosok pria yang ia kenal dulu sebelum mama nya meninggal.
“ pah...ja..jaga......diri....papa....baik-baik....yach..” seketika suara lyla terhenti, kesadarannya tiba – tiba hilang, tangan yang sedari tadi memegang pun lemas seketika.
“ Tidakkkkkkkkkkkkkkkk......lylaaaaaaaa !!!!!”

*******




“rin....rin...ini aku maya !!!!” jawab maya dengan tergesa -gesa.
“ada apa may ?? kok keliatan nya penting banget sampai pagi-pagi telp aku” jawab rino dengan terheran – heran.
“lil.....lyla rin !! lyla rin !!” hanya itu kata-kata yang terucap dari maya.
“ lyla kenapa may ?? jawab yang jelas dunk” jawab rino menjadi penasaran apa yang terjadi.
“lyla......lyla meninggal rin !! lyla meninggal !! jelas maya pada rino.


Bagai petir menyambar tubuh nya di pagi hari. Rino tak kuasa menahan gejolak dalam diri nya. Tubuhnya langsung lemas mendengar perkataan dari maya. Telp yang di pegangnya sedari tadi terlepas menghempas lantai. Kekhawatiran yang menjadi kenyataan, ia pun langsung terduduk di lantai di ikuti tangis dan sebuah penyesalan yang amat dalam mendengar berita kematian lyla.
“Rin ! Rin ! Kamu tidak apa – apa kan ? “ tanya maya berulang – ulang kali di balik telp.


Segera di ambilnya telp itu “ aku nggak apa – apa kok may...” kali ini suara rino terdengar surau tanda ia sangat terpukul sekali dengan apa yang menimpa diri nya.
Dengan bergegas segera ia menuju rumah lyla di temani oleh maya yang juga menjadi teman baik nya dan lyla.

******




Suasana pemakaman sedikit demi sedikit mulai di tinggal kan oleh para pelayat yang sedari tadi ikut menemani. Cuaca terlihat mendung tanda bahwa sebentar lagi akan datang hujan.
“ rin..... aku tunggu di mobil ya !! kamu yang tabah..... mungkin tuhan punya jalan sendiri buat lyla. Semoga ia tenang di alam sana” jelas maya memberi semangat pada rino.
“ iya may.... makasih ya” jawab rino.


Setelah itu maya meninggalkan rino seorang diri. Didekati nya gundukan tanah yang masih merah dan di taburi bunga itu. Terlihat papa lyla duduk dengan tangan memegang erat batu nisan yang tertulis nama lyla.


Rino mendekatinya dan duduk berada di samping pria separuh baya itu. “ oom....rino turut berduka cita atas meninngalnya lyla”. Lyla orang yang tegar dalam menghadapi masalah dan rino sangat sayang sekali sama lyla”. Rino ikut sedih atas kematian lyla” jelas rino dengan suara lirih.
Papa nya lyla pun menoleh dengan di ikuti senyuman ke arah rino. Di tepuk nya pundak rino dengan tangannya.


“ sama – sama nak rin.....lyla pasti juga sangat sayang sama kamu “. seharusnya oom yang berada di dalam kuburan ini bukan lyla....hiks...hiksss...” sesal nya sambil memegang erat batu nisan itu.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja hitam nya itu. “ ini kata -kata terakhir yang sepertinya di tulis oleh lyla sebelum meninggal, mungkin ini di tujukan buat kamu rin.....terimalah”.


Di serahkannya sepucuk kertas putih itu kepada rino. Sesaat kemudian ia berdiri dan melangkahkan diri meninggalkan rino, tampak dari kejauhan suara isak tangis nya terdengar tiada henti.

******



Titik – titik air sedikit demi sedikit jatuh ke atas bumi. Nampak nya hujan akan segera turun. Rino masih saja terpaku dengan kenyataan ini, di pandangi nya batu nisan itu oleh rino, di peganginya erat - erat. Terkadang ia pun mencium nya sesekali. “ seandai nya malam itu aku ada di sana.....aku.....aku pasti tidak akan biarkan hal ini terjadi lil !!” sebuah ungkapan dalam hati yang terucap dari mulut rino.
Lalu di bukanya sepucuk kertas yang di berikan oleh papa lyla kepadanya itu dan ia pun membacanya.

“dear rino....maafkan aku yach kalau aku tidak bisa menjadi yang terbaik buat kamu. Kamu pasti marah atas tindakan yang aku lakukan ini. Tapi !! tapi !! aku nggak punya pilihan lain rin. Aku sudah bosan dengan kehidupan ku ini. Aku ingin sekali bisa bebas!! lepas layaknya merpati putih di angkasa. Aku ingin menjadi seperti malaikat yang tak pernah mempunyai beban sama sekali. Meskipun aku tahu bahwa tindakan yang aku lakukan ini mungkin salah menurut mu.

Rin....selama ini kamu telah banyak membantu aku, di saat aku sedih dan di saat aku senang kamu selalu berada di sisiku. Aku senang sekali rin, kamu sudah memberikan warna dalam dunia ku.....mudah – mudahan kamu mau memaafkan aku. Jujur dalam hati ku, aku sayang sekali sama kamu. Kamu jaga diri baik – baik yach. Mungkin suatu saat nanti kita akan di pertemukan kembali. Yaaaa....suatu saat nanti, dan aku pasti akan menunggu hari itu tiba !!”. luv lyla.


Bergetar hati rino membaca surat itu. Airmata nya menetes membasahi kertas itu. Dengan sekejap di peluknya gundukan tanah tempat bersemayamnya lyla. Di genggamnya erat – erat, seakan – akan lyla lah yang ia dekap.
“ lil.....bodoh kamu....hiks...hiks....kenapa kamu lakukan hal bodoh ini !!”. kamu pasti sadar bahwa perbuatan mu ini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang kamu hadapi.... benar kan lil !!” sesal rino dengan tangan memukul – mukulkan ke tanah.


“ percuma aku menangis.... percuma aku menyesali ini semua....semua ini tidak akan mengembalikan kamu lagi”
“lil aku janji !! aku juga akan menunggu hari itu..... dan sampai kapan pun cinta ku ini tak akan pernah pudar”


“ yaaa....semoga kamu tenang di alam sana” rino mengakhiri pembicaraannya dan berdiri perlahan meninggalkan lyla seorang diri di lubang yang gelap itu. Dan akhirna hujan pun turun mengiringi kepergian rino. End

Kumpulan Cerita Pendek Remaja : Arti Sebuah Pilihan ini sangat menyentuh banget ya,, moga menjadi inspirasi dalam mengambil keputusan anda, so jangan lupa kirim karya-karya kamu di Aneka remaja !!!